Kembali Lagi....Lagi-lagi Yang Berat Bebannya Adalah Wanita Juga
Aku memiliki beberapa teman yang kehidupan rumahtangganya Long Distance Marriage (LDM), termasuk Aku.
Sebelumnya kuceritakan tentang diriku, Aku sangat enjoy menjalani hingga 11 tahun pernikahan. Aku full sebagai ibu rumah tangga yang sehari-hari berkutat mengurusi anak-anak, rumah, dan kehidupan rumahtangga seperti biasanya. Aku tidak ikut-ikutan berwirausaha, atau bekerja sambilan dari rumah. Karena gaji suami sudah cukup untuk sehari-hari, anak-anak, bahkan termasuk membelikan apa yang jadi keinginanku pribadi, pakaian, sepatu, perhiasan, parfum, liburan, makanan, skincare ??? Aku tidak memakainya, tapi Aku lebih suka pakai ramuanku sendiri, karena Aku sangat telaten merawat tubuh dan wajah. Lagipula, waktuku sangat tersita untuk anak-anakku yang jumlahnya 3 orang
Ketika Aku memiliki teman yang menjalani LDM juga, ternyata mereka merasa sebagai suatu beban yang sangat berat, baiklah.....Aku tahu dan paham beratnya kenapa dan dimana.
Seorang sahabatku baru menikah 2 tahun, full LDM karena suami tinggal di luar negeri dan selama 2 tahun, karena setelah menikah, trus suami kembali ke luar negeri, dan covid-19 melanda dunia...terpaksa istrinya tidak bisa menyusul ke luar negeri. Barulah minggu-minggu ini dijemput suaminya untuk kembali ke luar negeri. Alhamdulillah Aku ikut berbahagia untuk mereka berdua.
Ada lagi, seorang teman yang LDM dengan suaminya, sementara dia tinggal di rumahnya dengan ibu dan anaknya yang masih kelas 1 SD. Dia juga merasa sangat berat ketika LDM, ya....Aku lagi-lagi memahami. Dia berwirausaha dibidang makanan, dan pendistribusian produk makanan... Aku melihat, ketika dia LDM dengan suaminya, yang namanya uang itu selalu tersedia, bahkan menyekolahkan anaknya di sekolah swasta mahal, anaknya diles kan ditempat terkenal, karena suaminya bekerja di salah satu instansi BUMN. Untuk urusan keuangan, kita tak tahu pastinya....tapi selama suaminya bekerja di instansi BUMN itu....mereka bisa jalan-jalan, jajan, atau staycationlah kalo mereka bertemu. Dan uang sehari-hari pastilah cukup, apalagi istri juga punya usaha sampingan dan suami bekerja di kantor.
Suatu ketika, tibalah keluarga kecil itu mengambil keputusan, yang menurutku aduhhh...masih sayang bangettt, kenapa suaminya resign.... Kuulang kenapa sayang banget ??? Karena suaminya ini resign dari tempatnya bekerja, dan pulang ke kota istrinya, sementara mereka masih tinggal di rumah mertua, ibu dari istrinya. Gak kebayang.... Tapi Aku bisa merasakan karena Aku pernah mengalami walau bukan tentang resignnya suami. Mungkin, sebulan, dua bulan, tiga bulan ini akan serasa bulan madu dan menempuh hidup baru sebagai keluarga utuh, ada bapak, ibu, dan anak berkumpul jadi satu, walau di rumah mertua. Kembali lagi, suami kan sementara di rumah tidak memiliki pekerjaan, dan mau tidak mau mereka harus hidup dengan uang dan tidak mungkin mengandalkan gaji terakhir, pesangon, dan tabungan saja. Mengingat mereka masih pasangan muda. Nah selama suami ini belum bekerja dan sudah pasti kan istri yang semula punya usaha sampingan yang notabene, hanya mengisi waktu, ato menyalurkan hobi memasaknya, kini harus benar-benar bekerja untuk menghidupi keluarganya, dan secara tidak langsung bisa kukatakan, istrilah sekarang yang bekerja untuk menghidupi keluargannya. Dan lagi-lagi, wanita ini memiliki beban berat di kemudian hari karena harus bekerja.
(Dulu) Aku juga menganggap Long Distance Marriage (LDM) itu suatu yang tidak mudah dan sangat berat, sangat kompleks, penuh drama, dan apalagi Aku tinggal di rumah ibuku. Saat ibu masih ada, perasaanku ketika suamiku pulang dari luar kota, perasaanku tidak menentu karena mengingat Aku harus menjaga perasaan suami dan ibuku. Kebetulan ibuku termasuk tipe mertua yang agak sulit menerima budaya suami yang mungkin tidak berkenan di hati ibu. Sekarang sudah 2 tahun ini ibuku meninggal dunia dan Aku di rumah sendiri bersama 3 orang anak.
Bagaimana Aku menyikapi tentang LDM ini menurut dari versi yang Aku alami sekarang ?
Kini, Aku lebih realistis menghadapi kehidupan rumahtangga LDM ini. Aku bersyukur memiliki suami pengertian, tidak neko-neko, dan setia menjalani komitmen rumahtangga LDM ini. Aku ini memiliki watak suka kebebasan, selama LDM Aku menikmati waktu-waktu bisa bersama suami lebih mesra seperti waktu pacaran karena kami hanya memiliki waktu terbatas untuk ketemu, mungkin hanya beberapa hari saja, sering kami staycation bersama anak-anak....coba kalau tidak LDM, pasti akan jarang kita staycation yang indah di suatu tempat sambil berwisata. Aku masih bisa bepergian dengan teman-temanku, Aku masih bisa merawat tubuh sesuai yang kumau, Aku masih bisa membeli baju-baju yang kusukai, Aku bisa makan-makanan kesukaanku tanpa beban, Aku bisa menyalurkan hobiku berolahraga, dan masih banyak lagi hal-hal menyenangkan efek dari LDM. Ya itu plus-plusnya, meski ada minusnya...tapi selama ini tidak kubuat sebagai beban. Kalo rindu tinggal Aku yang keluar kota tempat suami, atau suami yang datang ke rumah. It's simple jangan dibikin beban.
Nah menurutku, LDM bukanlah beban berat, tapi yang namanya beban itu adalah, bila suami resign dari pekerjaannya, trus belum memiliki pekerjaan lain, dan bila akan berwirausaha, modalnya masih pas-pasan..., Keuangan sudah tidak bisa selonggar dulu sewaktu suami bekerja di kantor. Kalo Aku pilih : No..... Nikmati saja dulu yang sudah ada ini, jangan manja karena keadaan, yang menginginkan suami harus selalu ada dirumah, disamping istri, dan bagaimana dengan uang yang pas-pasan ???? Pasti akan makan ati juga kan......
Komentar
Posting Komentar